Ternyata Ini Loh! Awal Mula Boomingnya Kaos Turn Back Crime

✆ 0822-1603-6341

Bapak Fadil

Ruko pasar ceger Blok A1 No.5. Jurangmangu -  Tangsel

www.turnbackcrime.com/content/support-around-world

www.turnbackcrime.com/content/support-around-world

Gempuran bom yang dilakukan teroris pada salah satu ruas jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Januari lalu membuat trend baru pada produk yang tersebar di pasaran. Produk ini awalnya menjadi pengetahuan khalayak lewat perantara foto atau video yang menyebar di akun-akun media social atau cannel media massa.

Hal ini menjadi trend senter di masyarakat, maraknya pemakaian produk menimbulkan kecaman dan larangan dari pihak kepolisian. “Kaporli melarang penggunakan baju Turn Back Crime untuk warga sipil dikarenakan pakaian tersebut sering disalahgunakan untuk memperlancar tindak kejahatan”. terang Kepala Bidang Hukum Masyarakat kepolisian Daerah Lampung, AKBP Sulistyaningsih, Senin (23/5).

Menurut Sulistyaningsih, pernyataan tersebut berdasarkan surat larangan yang ditandatangani langsung oleh Kepala kepolisian republic Indonesia, Jenderal Badrodin Haiti.
Sayangnya, Badrodin Haiti menyangkal terkait pernyataan tersebut bahwa “Saya tidak pernah mengatakan hal itu hoax”. Dikutip dari Sindonews (24/5)

Jendral Badrodin mengatakan pasalnya slogan Trun Back Crime justru memilki dampak positif, bahwasannya setiap orang yang memakai produk bertuliskan Trun Back Crime menggugah pembacanya untuk memerangi kejahatan.

Diliris oleh Interpol Biro Indonesia, bahwa kampanye kepedulian modial terhadap kejahatan dengan slogan tersebut memang mengacu kepada masyarakat umum. Tidak hanya kalangan bisnis dan instansi pemerintah saja. Diharapkan dengan meluncurkan gerakan ini masyarakat ikut peduli dan sadar akan kejahatan yang terjadi di sekitar mereka.

Pada laman resminya, Interpol  memberikan keterangan bahwa kampanye itu melihat pada fakta dan jaringan kejahatan terorganisasi di balik beberapa komuditas selundupan seperti barang, obat palsu, narkoba, senjata, bahkan manusia.

Kejahatan yang mencakup hal tersebut-serta  keburukan yang terlihat tidak saling berkait seperti pidana, siber, penipuan, kejahatan terhadap anak dan korupsi di bidang olahraga-sesungguhnya hal tersebut saling terkait. Sebab, laba dari satu sektor akan dimanfaatkan untuk mendanai sektor lain.

Karena salah satu pihak yang dituju adalah masyarakat umum. Interpol pun menunjuk sosok kesohor seperi bintang film Jackie Chan dan Shah Rukh Khan untuk menjadi dutanya. Tak hanya itu demi mencapai dunia maya, kampanye pun dilakukan lewat akunTwitter, Facebook dan Instagram.

Saat dipilih sebagai duta, Shah Rukh Khan menukil dari Mahatma Gandhi bahwa “Tak satu pun di bumi yang patut kutakuti. Saya lebih takut kepada Tuhan. Saya tidak boleh memusuhi orang lain. Saya tidak boleh menyerah atas ketidakadilan. Saya harus menakhlukan dusta dengan kebenaran dan ketika memerangi dusta , saya harus menanggung segala derita jika itu memang diharuskan”.

Ditahun 2015, kampanye Interpol ini mendapatkan penghargaan dari Global Anti-Counterfeiting Group (GACG). Ketika menerima apresiasi tersebut, Direktur kampanye Roraima Andriani mengatakan bahwa “keberhasilan kampanye  Trun Back Crime merupakan hasil atas upaya bersama yang dilakukan secara internasional”.

Di Indonesia trend senter Trun Back Crime berhubungan sangat erat dengan peran Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Krishna Murti yang bersam anak buahnya mengenakan seragam bertuliskan jaron tersebut saat berjibaku di jalan M.H. Thamrin.

Menurut Kompas, gaya busana akan mengubah wibawa, karakter dan citra polisi di mata masyarakat. “Polisi merupakan satu-satunya institusi yang setiap hari masku pada media televisi. Jika pengungkapan kasusnya bagus, penampilan tidak bagus akan percuma. Jadi keduanya harus seimbang.” Jelasnya.

 

POST REPLY