Sejarah Sablon Kaos

✆ 087 8800 33233

Ibu Eka

Ruko pasar ceger Blok A1 No.5. Jurangmangu -  Tangsel

Di era globalisasi ini, teknik cetak atau sablon sudah tak dipungkiri lagi urgensinya. Kebanyakan produk sehari-hari mengandalkan teknik gesut atau sablon dalam proses pembuatannya. Tidak percaya? coba saja perhatikan kemasan cemilan yang ada di rumah. Atau coba Anda amati sampul buku atau majalah yang anda punya.

Atau coba Anda lihat sablonan pada t-shirt yang sedang Anda gunakan. Semuanya menggunakan teknik gesut atau sablon demi tampak lebih indah dan menawan untuk dikonsumsi.

Asal Usul Metode Cetak Saring

Teknik sablon atau cetak saring pertama kali dipopulerkan di China, pada pemerintahan Dinasti Song (960 – 1279 M). Kemudian teknik tersebut mulai populer pada beberapa negara Asia seperti Jepang, Taiwan dan Korea. Kemudian negara tersebut mulai meniru metode cetak baju kaos ini dan mengembangkannya dengan menggabungkannya dengan penggunaan teknik sablon atau cetak lainnya.

Perlahan namun pasti, teknik sablon mulai mendunia dan dikenalkan ke negara-negara Eropa Barat setelah bergeser dari Asia pada akhir abad 18. Namun, pada awalnya teknik cetak saring atau sablon tidak disambut dengan baik di sana.

Namun akhirnya sablon untuk kain tekstil akhirnya menjadi dikenal semenjak media sutera mulai banyak dipakai di pasaran. Teknik cetak saring atau sablon tersebut digunakan untuk mencetak pernak pernik pada kain sutera.

Masuk ke Ranah Komersil

Waktu pun terus berjalan. Teknik cetak saring atau sablon pun akhirnya pertama kali dipatenkan di Britania oleh Samuel Simon pada tahun 1907. Awalnya, penyablonan digunakan sebagai teknik untuk melakukan pencetakan pada kertas dinding (wallpaper), pencetakan sprei, sutra, atau bahan – bahan kain lainnya yang memiliki kualitas tinggi.

Namun akhirnya penyablonan merambah ke berbagai media, termasuk sablon kaos, sablon poster dan sablon pada media lainnya.

Teknik Cetak Saring dalam Ranah Seni

Selain merupakan alat bantu komersial, teknik sablon pun menjadi salah satu alat berpengaruh di dunia seni rupa. Pada dunia teknologi industri, teknik penyablonan diadopsi oleh para seniman sebagai sebuah solusi atas bahan baku produksi pencetakan konvensional yang mahal. Metode cetak saring ini pun menjadi solusi rasional dan murah untuk melakukan produksi karya seni secara berkali-kali.

Kemudian pada era 30an, sebuah komunitas pekerja seni cetak saring di Inggris mencetuskan pendirian perkumpulan dengan nama Perkumpulan Serigrafi Nasional (National Serigraphic Society), yang awalnya masyhur dengan nama Serigrafi pada tahun 1930. Kata Serigrafi itu sendiri berasal dari gabungan bahasa Latin, yaitu ‘Seri’ (sutra), dan bahasa Yunani ‘Graphein’ (menulis atau menggambar).

stoffa

Paguyuban tersebut didirikan untuk mengklasifikasi antara pelaku seni yang berkarya di bidang seni dengan mengandalkan penyablonan, dengan mereka yang memang bergerak di bidang sablon untuk kepentingan industri.
Salah satu pekerja seni terkemuka bernama Andy Warhol merupakan salah satu nama yang memiliki pengaruh besar dalam memperkenalkan teknik penyablonan yang bersinggungan dengan istilah serigrafi tersebut.

Warhol sangat populer dengan karyanya pada tahun 1962, yaitu gambar Marilyn Monroe yang dibuat dengan mengandalkan warna – warna yang menabrak. Pada kala itu, Warhol pun mempopulerkan aliran seni rupa baru ciptaannya sendiri, yang sekarang dikenal dengan nama Seni Pop.

Sekarang, teknik sablon atau cetak saring menjadi terkenal, baik dalam dunia seni, maupun pencetakan berbasis bisnis. Tak jarang, teknik sablon ini digunakan untuk mencetak sablon pada kaos, topi, DVD, kaca, polyetilen, kertas, kulit, marmer, dan berbagai bahan lainnya.

Perkembangan Teknologi Sablon pada Kaos

Pada era 1960, salah satu wirausahawan sekaligus seniman dari negeri paman sam bernama Michael Vasilantone, menciptakan sebuah mesin sablon dengan model rotary agar bisa menyablon lebih dari satu warna serta mematenkannya.

Mesin cetak saring tersebut pada awalnya dibikin untuk mencetak lambang dan tulisan pengenal pada kaos pada klub bowling. Namun kemudian fungsinya dikembangkan lebih dalam lagi sehingga kemudian menjadi salah satu solusi termutakhir dalam memproduksi sablon pada bahan t-shirt.

Paten yang diajukan oleh Vasilantone tidak memakan waktu yang lama. Cuma membutuhkan waktu kurang dari 5 tahun saja, mesin sablon model rotary ala Vasilantone ini kemudian dipakai oleh berbagai industri fashion di Amerika. Tak hanya itu, sistem sablon baju t-shirt tersebut pun menjadi salah satu mesin paling terkenal dalam dunia industri penyablonan hingga saat ini.

Kemudian di era 60an Vasilantone mematenkan mesin sablon t-shirt rotary-nya untuk status paten tingkat dunia. Hak paten dunia pun akhirnya keluar atas namanya dengan nomor 3.427.964 pada tanggal 18 Februari 1969. Sekarang, lebih dari 50% kegiatan pencetakan teknik sablon t-shirt di Amerika dan seluruh dunia mengandalkan teknik sablon baju kaos dengan sistem rotary ala Vasilantone.

Pada bulan Juni 1986, seorang pengusaha sekaligus pelaku seni bernama Marc Tartaglia Jr. and Michael Tartaglia berhasil membuat metode peralatan sablon t-shirt yang didaftarkan hak patennya. Mereka mematenkan sebuah sistem sablon separasi yang dapat membikin desain penuh warna bisa dicetak dan diaplikasikan pada beberapa kain dengan melalui media printer screen yang terbuat dari benang.

Kini, teknologi gesut sudah sangat umum digunakan dalam berbagai bisnis fashion yang ukuran pembuatannya tinggi seperti kaos, jaket, polo, pamflet dan display untuk keperluan periklanan lainnya. Biasanya, untuk mencetak dengan hasil full warna bisa dibuat menggunakan teknik warna CMYK (cyan, magenta, yellow and black (‘key’)).

POST REPLY